Menu

Mode Gelap
Jika Anda Kembalikan Troli Tanpa Diminta, Ini 8 Ciri Kepribadian Langka Menurut Psikologi Orang yang Berjalan dengan Tangan di Belakang Punggung: 7 Perilaku yang Mengungkap Psikologi Mereka WhatsApp Plus hadir di iPhone, pin 20 chat dan ubah tema sesuai keinginan Optimasi rantai pasok: Mengapa penting bagi bisnis? Jadwal Pekan 33 BRI Super League: Empat Tim Di Tekanan Harga Emas Antam Naik Rp40.000 Jadi Rp2.859.000 Per Gram, 12 Mei 2026

Lifestyle

Musri dan Misro, Warisan Perajin Kapal Kayu di Pinggir Sungai Bangka Kota

badge-check


					Musri dan Misro, Warisan Perajin Kapal Kayu di Pinggir Sungai Bangka Kota Perbesar

Kehidupan Pengrajin Kapal Kayu di Desa Bangka Kota

Di tengah desa yang terletak di pinggiran sungai, dua pria paruh baya masih setia menjaga tradisi pembuatan kapal kayu. Misro (65) dan Musri (49) adalah salah satu dari sedikit pengrajin yang masih bertahan di Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam bengkel sederhana yang beratap plastik hitam dan ditopang batang kayu.

Tidak banyak pengrajin kapal kayu di desa ini yang mampu bertahan hingga saat ini. Dulu, Bangka Kota dikenal sebagai sentra penghasil kapal berbahan kayu dengan ukuran besar-besar. Tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga sebagai alat pertahanan. Namun kini, kejayaan itu tinggal cerita.

Pada hari Senin (11/5/2026), suara dentingan palu masih terdengar bersahutan di tepian sungai Bangka Kota. Seorang pria paruh baya sedang sibuk melaksanakan aktivitasnya di bawah terpal hitam yang menggantung seadanya. Cahaya matahari menembus sela dedaunan dan memantul di tubuh kayukayu yang mulai membentuk lambung kapal. Di bengkel sederhana tersebut, dua pria paruh baya masih bertahan melawan zaman.

Misro (65) tampak berdiri di sisi rangka kapal sambil sesekali mengusap peluh di wajahnya. Tak jauh dari situ, Musri (49) berdiri di dalam badan kapal setengah jadi. Tangannya yang dipenuhi serbuk kayu bergerak hati-hati memegang palu dan alat ukur, memastikan setiap lengkungan kapal tetap presisi. Di bawah kaki mereka, serpihan kayu berserakan seperti sisa-sisa waktu yang perlahan habis dimakan usia.

Aroma kayu basah bercampur bunyi bor dan ketukan besi memenuhi ruang kerja yang jauh dari kesan modern. Sebuah mesin senso tua tergeletak di sudut bengkel dengan cat memudar, seolah ikut menua bersama para pengrajin yang masih setia menjaga tradisi pembuatan kapal kayu di desa itu.

Namun kini, tradisi tersebut perlahan kehilangan napas. Bengkel-bengkel kapal yang dahulu ramai di kawasan Bangka Kota satu per satu mulai menghilang. Generasi muda memilih pergi ke perkebunan sawit atau pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan. Sementara para pengrajin yang tersisa hanya bisa dihitung dengan jari.

Warisan yang Terancam Hilang

Musri mengaku sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bengkel kayu. Sejak tahun 1987, ia meneruskan keahlian membuat kapal dari orang tuanya yang juga pengrajin perahu tradisional. “Saya belajar membuat kapal dari orang tua karena dulu orangtua juga pembuat perahu, jadi sekarang saya teruskan,” kata Musri sambil mengebor tulang kapal.

Bagi Musri, membuat kapal bukan sekadar pekerjaan. Ia harus memahami karakter kayu, menentukan posisi tulang kapal, hingga menjaga keseimbangan badan kapal agar tidak miring saat berada di laut. Di hadapannya berdiri kerangka kapal sepanjang sekitar 12 meter dengan lebar 2,2 meter. Tulang-tulang kapal dari kayu laban dan jati melengkung rapi menyerupai kerangka ikan raksasa yang sedang tidur di tepian sungai.

Kayu-kayu itu dipotong, dibentuk, lalu disatukan secara manual menggunakan alat sederhana. Tak ada mesin modern. Hanya palu, bor tua, senso usang, dan pengalaman puluhan tahun yang menjadi pegangan.

Musri mengatakan bahan baku kayu kini semakin sulit didapat. Hutan yang dulu menjadi sumber kayu perlahan berubah menjadi perkebunan sawit. “Kalau dulu kami banyak pakai kayu meranti, sekarang sudah susah dicari. Karena hutan dan kebun sudah menjadi perkebunan kelapa sawit,” paparnya.

Kesulitan bahan baku membuat para pengrajin tidak lagi mampu memproduksi kapal besar seperti dahulu. Jika pada era 1990-an pengrajin Bangka Kota mampu membuat kapal sepanjang 33 meter, kini mereka hanya mampu mengerjakan kapal ukuran 12 hingga 16 meter.

Keterbatasan dan Kesulitan

Meski harga kapal bisa mencapai Rp55 juta hingga Rp150 juta, keuntungan yang diperoleh pengrajin ternyata tidak besar. Musri mengatakan tingginya biaya bahan baku dan ongkos produksi membuat penghasilan mereka hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. “Keuntungan paling hanya sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per hari untuk kebutuhan sehari-hari,” papar Musri.

Untuk membeli kayu, ia bahkan harus meminjam modal usaha sebesar Rp25 juta dari Bank Mekar atau PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pinjaman itu dicicil setiap bulan sambil tetap menyelesaikan pesanan kapal. “Itupun kalau modalnya kita beli sendiri, kalau mengupah tidak bisa dengan modal segitu. Karena modal Rp25 juta untuk beli bahan,” ucapnya.

Di tengah keterbatasan alat kerja, kerusakan mesin menjadi persoalan lain yang menghantui para pengrajin. Mesin senso dan bor yang mereka gunakan sudah berumur tua dan kerap rusak saat pengerjaan kapal berlangsung. “Memang belum ada bantuan dari pemerintah. Bahkan dari tahun 1987 tidak ada bantuan pemerintah. Kami mengalami kesulitan karena alat macet,” pungkas Musri.

Hilangnya Regenerasi

Di sela suara palu dan gesekan kayu, ada kegelisahan lain yang lebih besar dirasakan para pengrajin: hilangnya regenerasi. Anak-anak muda di Bangka Kota kini dinilai tidak lagi tertarik mempelajari keterampilan membuat kapal kayu. Proses panjang, pekerjaan berat, dan keuntungan yang kecil membuat profesi itu semakin ditinggalkan.

“Kalau saat ini tidak ada regenerasi. Kalau tidak rutin belajar tidak tahu. Apalagi generasi sekarang,” kata Musri lirih. Kondisi itu juga dibenarkan Suhar. Menurutnya, sebagian besar masyarakat kini beralih bekerja di sektor perkebunan sawit dibanding menjadi nelayan ataupun pengrajin kapal. “Jadi generasi muda sekarang tidak berminat ke arah situ. Saat ini pengrajin kapal pun yang ada pakan generasi-generasi sebelumnya,” imbuhnya.

Padahal dahulu, hampir sebagian besar warga Bangka Kota memiliki kemampuan membuat perahu. Suara palu dan aroma kayu pernah menjadi denyut kehidupan kampung itu. “Ke depan mungkin kita akan melakukan pelatihan, bersama BLK maupun perindustrian. Kita kirim warga kita untuk belajar, agar bisa mempertahankan atau meregenerasi pengrajin kapal ini,” pungkas Suhar.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jika Anda Kembalikan Troli Tanpa Diminta, Ini 8 Ciri Kepribadian Langka Menurut Psikologi

12 Mei 2026 - 11:05 WIB

Orang yang Berjalan dengan Tangan di Belakang Punggung: 7 Perilaku yang Mengungkap Psikologi Mereka

12 Mei 2026 - 11:00 WIB

WhatsApp Plus hadir di iPhone, pin 20 chat dan ubah tema sesuai keinginan

12 Mei 2026 - 10:58 WIB

Jadwal Pekan 33 BRI Super League: Empat Tim Di Tekanan

12 Mei 2026 - 10:54 WIB

6 Shio Ini Akan Dikaruniai Rezeki Tak Putus di Tahun 2026, Siapa Saja?

12 Mei 2026 - 09:49 WIB

Trending di Lifestyle