Kolaborasi dengan Swiss Smart Factory untuk Transformasi Industri Indonesia
Industri manufaktur Indonesia sedang menghadapi tantangan besar dalam menghadapi era Industry 5.0. Untuk mempercepat transformasi tersebut, Kadin Indonesia Swiss Chamber mengajak kerja sama dengan Swiss Smart Factory (SSF) yang dianggap sebagai contoh sukses dalam pengembangan teknologi dan inovasi industri.
Kerja sama ini difokuskan pada dua aspek utama, yaitu pengembangan teknologi manufaktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Tujuannya adalah agar SDM Indonesia siap menghadapi tantangan industri berbasis kecerdasan buatan (AI) dan teknologi tinggi lainnya.
Francis Wanandi, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Swiss Chamber, menyatakan bahwa saat ini sudah ada sekitar 10 hingga 12 negara yang menjalin kerja sama dengan SSF dalam pengembangan teknologi dan manufaktur masa depan. Kadin Indonesia Swiss Chamber bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss dan Liechtenstein di Bern Swiss berupaya membuka jalur kerja sama antara Indonesia dengan ekosistem inovasi yang dikembangkan SSF.
SSF adalah pusat inovasi dan laboratorium bersama di Swiss yang berfokus pada teknologi pabrik modern (Industri 4.0 dan 5.0), terletak di Kota Biel/Bienna Swiss. Francis menilai bahwa kolaborasi dengan SSF bisa menjadi langkah penting bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi industri.
Dalam rangkaian perayaan 75 tahun hubungan bilateral RI-Swiss, tim jurnalis KG Media berkesempatan mengikuti event tahunan yang digelar di kota Biel/Bienne Swiss. Kota ini dikenal sebagai pusat industri dan pembuatan jam tangan terkenal, seperti Omega dan Swatch. Lokasinya berada di tepi Danau Biel dan kaki Pegunungan Jura, serta membutuhkan sekitar 1,5 jam berkendara ke arah utara dari Bern, Ibu Kota Swiss.
Event tahunan yang berlangsung di Switzerland Innovation Park Biel/Bienne itu mempertemukan pelaku industri, peneliti, inovator, dan praktisi teknologi dari berbagai negara untuk membahas masa depan manufaktur cerdas, kecerdasan buatan, dan konsep Industry 5.0.
Francis menilai bahwa Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja berkeahlian rendah dan secara bertahap bertransformasi menuju industri berbasis teknologi tinggi. Ia berharap suatu saat Indonesia tidak hanya bergantung pada tenaga kerja berkeahlian rendah, tetapi juga masuk ke industri dan pabrik berbasis teknologi yang membutuhkan SDM dengan kemampuan yang lebih tinggi.
Peningkatan kualitas SDM menjadi faktor penting agar Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok industri global sekaligus memanfaatkan peluang yang lahir dari perkembangan Industry 5.0 dan kecerdasan buatan.
Keberhasilan Swiss menjadi salah satu pusat inovasi teknologi dan manufaktur canggih dunia tidak terlepas dari kuatnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Menurut Francis, sinergi yang erat antara ketiga unsur tersebut menjadi kunci keberhasilan Swiss.
“Kalau saya lihat di sini, kuncinya adalah kolaborasi. Kolaborasi sesama industri, kolaborasi antara pemerintah dengan industri, termasuk kolaborasi dengan perguruan tinggi. Tiga elemen ini memungkinkan mereka menjadi pemain bahkan pemimpin di dunia,” ujarnya.
Francis menambahkan bahwa fondasi utama dari kemajuan Swiss adalah pola pikir atau mindset untuk menjadi pemimpin dunia. Visi besar tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam investasi yang dilakukan secara konsisten oleh pemerintah, industri, maupun kalangan akademisi.
“Tidak ada lagi negara di dunia yang bisa maju tanpa kolaborasi satu sama lain,” tegasnya.










