Menu

Mode Gelap
LAK DKI JAKARTA BUKA POSKO PENGADUAN KONSUMEN APARTEMEN LRT CITY Eks Wakapolri Merasa Dikriminalisasi, Kortas Tipidkor Polri Angkat Bicara Rambut Rontok? Ini 6 Vitamin untuk Akar Lebih Kuat dan Sehat Keluarga kaget tahu Miskah Shafa hamil anak kedua Mengapa Suzuki Thunder Dilarang Isi Pertalite, Tapi Kawasaki, Honda, dan Yamaha Scorpio Boleh? Jokowi bertemu teman kuliah UGM sebelum persidangan kasus ijazah palsu

Lifestyle

Jika Remaja Tidak Mendengarkan, Lakukan 7 Kebiasaan Ini Berdasarkan Psikologi

badge-check

Jika Remaja Tidak Mendengarkan, Lakukan 7 Kebiasaan Ini Berdasarkan Psikologi Perbesar

Masa remaja sering kali menjadi periode yang penuh tantangan bagi orang tua. Banyak dari mereka merasa bingung ketika anak-anak yang dulu patuh dan mendengarkan nasihat tiba-tiba berubah menjadi lebih sulit diatur. Tanggapan singkat, tatapan datar, atau bahkan penolakan terhadap saran bisa membuat orang tua merasa bahwa anak mereka tidak lagi menghormati mereka. Namun, menurut psikologi perkembangan, perubahan ini adalah bagian alami dari proses menuju kedewasaan.

Pada masa ini, remaja mulai membangun identitas diri, belajar untuk berpikir mandiri, dan mencoba mengambil keputusan sendiri. Hal ini berarti pendekatan pengasuhan yang berhasil saat mereka masih kecil mungkin tidak lagi efektif. Meski begitu, hubungan antara orang tua dan anak tetap bisa diperbaiki dengan cara komunikasi yang tepat.

Berikut beberapa kebiasaan yang disarankan untuk membantu anak remaja lebih terbuka dan kembali mendengarkan orang tua:

Dengarkan Mereka Sampai Selesai Sebelum Memberikan Nasihat

Salah satu kesalahan umum yang dilakukan orang tua adalah langsung memberikan solusi sebelum benar-benar memahami masalah anak. Misalnya, ketika anak berkata, “Aku capek sekolah,” respons yang biasa diberikan adalah “Makanya jangan malas belajar.” Padahal, mungkin saja anak sedang menghadapi tekanan dari teman, tugas yang menumpuk, atau konflik dengan guru.

Psikolog Carl Rogers menjelaskan bahwa setiap orang membutuhkan didengarkan secara penuh tanpa dihakimi. Ketika seseorang merasa dipahami, ia jauh lebih terbuka menerima masukan. Cobalah bertanya:
– “Apa yang sebenarnya terjadi?”
– “Menurutmu bagian mana yang paling sulit?”
– “Lalu bagaimana perasaanmu?”

Setelah anak selesai berbicara, barulah berikan saran jika memang mereka membutuhkannya. Sering kali anak tidak mencari solusi, mereka hanya ingin merasa dimengerti.

Kurangi Ceramah, Perbanyak Percakapan Dua Arah

Semakin panjang ceramah, semakin besar kemungkinan anak berhenti mendengarkan. Remaja mulai mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan ingin pendapatnya dihargai. Daripada berkata, “Pokoknya kamu harus ikut kata Ayah,” cobalah mengatakan, “Menurutmu bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini?” Kalimat seperti itu membuat anak merasa dipercaya.

Dalam psikologi komunikasi, pendekatan kolaboratif jauh lebih efektif daripada komunikasi yang bersifat mengontrol. Ketika anak ikut terlibat dalam mengambil keputusan, mereka juga lebih bertanggung jawab menjalankannya.

Kendalikan Emosi Sebelum Menegur

Remaja belajar bukan hanya dari kata-kata orang tua, tetapi juga dari cara orang tua mengelola emosi. Jika setiap konflik selalu diwarnai teriakan atau ancaman, anak justru belajar bahwa kemarahan adalah cara menyelesaikan masalah. Saat emosi mulai memuncak, berhentilah sejenak, tarik napas, tenangkan diri, lalu ajak anak berbicara ketika suasana sudah lebih kondusif.

Orang tua yang tenang biasanya lebih mudah didengar daripada orang tua yang sedang marah.

Bangun Kedekatan di Luar Saat Ada Masalah

Banyak orang tua hanya mengajak bicara ketika anak melakukan kesalahan. Akibatnya, setiap kali dipanggil orang tua, anak langsung merasa akan dimarahi. Padahal hubungan yang sehat dibangun melalui interaksi sehari-hari. Luangkan waktu untuk:
– makan bersama,
– menonton film,
– berjalan santai,
– atau sekadar mengobrol sebelum tidur.

Dalam teori attachment, kedekatan emosional yang konsisten membuat anak merasa aman untuk berbagi cerita. Semakin kuat hubungan emosionalnya, semakin besar kemungkinan mereka mendengarkan ketika Anda memberi arahan.

Berikan Pilihan, Bukan Selalu Perintah

Remaja memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya. Jika semua keputusan selalu ditentukan orang tua, mereka cenderung melawan sebagai bentuk mempertahankan kemandirian. Misalnya, daripada berkata, “Belajar sekarang juga,” cobalah: “Kamu mau belajar sekarang atau setelah makan malam?” Keduanya tetap mengarah pada tujuan yang sama, tetapi anak merasa memiliki pilihan.

Menurut teori Self-Determination, rasa memiliki kontrol terhadap keputusan sendiri meningkatkan motivasi intrinsik dan kerja sama.

Berikan Apresiasi Saat Mereka Melakukan Hal yang Benar

Banyak orang tua hanya memperhatikan kesalahan anak. Ketika anak berbuat baik, dianggap hal biasa. Padahal psikologi perilaku menunjukkan bahwa perilaku yang mendapat penguatan positif cenderung lebih sering diulang. Tidak perlu hadiah mahal. Kalimat sederhana seperti:
– “Ayah bangga kamu jujur.”
– “Terima kasih sudah membantu Ibu.”
– “Kamu sudah berusaha keras hari ini.”

bisa memberikan dampak besar terhadap rasa percaya diri anak. Anak yang merasa dihargai biasanya lebih mudah menerima kritik karena mereka tahu orang tuanya juga melihat sisi baik mereka.

Jadilah Contoh, Bukan Hanya Pemberi Aturan

Ini adalah kebiasaan yang paling kuat. Anak remaja jauh lebih memperhatikan tindakan daripada kata-kata. Sulit mengharapkan anak tidak bermain ponsel saat makan jika orang tua melakukan hal yang sama. Sulit meminta anak berkata jujur jika mereka sering melihat orang tua berbohong dalam hal-hal kecil.

Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap figur yang dianggap penting dalam hidupnya. Karena itu, jika ingin anak:
– sopan,
– disiplin,
– bertanggung jawab,
– menghargai orang lain,

orang tua perlu terlebih dahulu menunjukkan perilaku tersebut secara konsisten. Contoh nyata jauh lebih berpengaruh daripada seribu nasihat.

Mengapa Remaja Terlihat Tidak Mau Mendengarkan?

Perlu dipahami bahwa tidak semua penolakan dari remaja berarti mereka tidak menghormati orang tua. Pada masa ini, otak bagian prefrontal cortex, yang berperan dalam mengendalikan emosi, merencanakan tindakan, dan mempertimbangkan konsekuensi, masih berkembang hingga usia sekitar pertengahan 20-an. Sementara itu, sistem emosional berkembang lebih cepat. Akibatnya, remaja lebih mudah bereaksi secara emosional, impulsif, atau ingin mencoba hal-hal baru.

Di sisi lain, mereka juga sedang membangun identitas diri. Keinginan untuk berbeda pendapat atau mengambil keputusan sendiri sering kali merupakan bagian dari proses perkembangan, bukan semata-mata bentuk pembangkangan.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari

Selain membangun kebiasaan positif, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari ketika berinteraksi dengan remaja:
* Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya.
* Mempermalukan anak di depan orang lain.
* Mengabaikan perasaan mereka karena dianggap “masih anak-anak”.
* Menggunakan ancaman sebagai cara utama mendisiplinkan.
* Mengungkit kesalahan lama setiap kali terjadi konflik baru.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat merusak kepercayaan dan membuat anak semakin enggan terbuka kepada orang tua.

Penutup

Menghadapi anak yang mulai remaja memang membutuhkan kesabaran dan penyesuaian. Apa yang berhasil saat mereka masih kecil belum tentu efektif ketika mereka mulai mencari jati diri. Menurut psikologi, hubungan yang hangat, komunikasi dua arah, dan keteladanan jauh lebih berpengaruh daripada sekadar aturan dan hukuman.

Ingatlah bahwa tujuan utama bukan membuat anak selalu patuh, melainkan membangun hubungan yang dilandasi rasa saling percaya. Ketika remaja merasa didengar, dihargai, dan diterima, mereka cenderung lebih terbuka terhadap arahan orang tua.

Pada akhirnya, remaja yang mau mendengarkan bukanlah hasil dari paksaan, melainkan buah dari hubungan yang dibangun setiap hari melalui perhatian, empati, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rambut Rontok? Ini 6 Vitamin untuk Akar Lebih Kuat dan Sehat

20 Juli 2026 - 08:54 WIB

Perbedaan Agama Tak Jadi Hambatan, Mama Rieta dan Desiree Tarigan Tunjukkan Persahabatan yang Kuat

19 Juli 2026 - 12:29 WIB

5 Perbedaan Sepatu Onitsuka Tiger Asli dan KW, Jangan Tertipu!

16 Juli 2026 - 12:10 WIB

4 Jenis Minuman yang Harus Dihindari Penderita Diabetes

14 Juli 2026 - 23:29 WIB

Trigliserida Tinggi, Kolesterol Normal: Bahaya Tersembunyi?

9 Juli 2026 - 00:49 WIB

Trending di Lifestyle