Kebaya sebagai Warisan Keluarga yang Berharga
Aktris Asri Welas mengungkapkan bahwa ia memiliki banyak kesamaan dengan karakter Madam Yati yang ia perankan dalam film pendek “Jalan Pulang”. Kesamaan ini tidak hanya terletak pada sifat dan kepribadian, tetapi juga dalam cara memandang kebaya sebagai bagian dari warisan keluarga yang penuh makna dan cerita. Bagi Asri, kebaya bukan sekadar busana tradisional yang dikenakan saat menghadiri acara resmi. Ia melihat kebaya sebagai bagian dari perjalanan hidup keluarganya selama beberapa generasi.
Nilai-nilai yang diwariskan oleh ibu dan neneknya sangat selaras dengan sosok Madam Yati dalam film tersebut. Menurut Asri, kebaya menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarganya. Ia menceritakan bahwa hampir semua kebaya yang dimilikinya memiliki nilai sejarah yang kuat. Bahkan, kebaya yang digunakan oleh ibunya saat menikah kemudian ia gunakan kembali sebagai kebaya lamarannya.
Tradisi ini berawal dari sang nenek yang lebih dulu mewariskan kebaya kepada generasi berikutnya. Asri menilai bahwa detail renda, brokat, serta potongan desain kebaya zaman dahulu memiliki karakter yang sulit ditemukan pada rancangan masa kini. Semakin bertambah usia sebuah kebaya, semakin besar pula keinginannya untuk terus mengenakannya dalam berbagai kesempatan.
“Kebaya ibuku menikah aku jadikan kebaya lamaranku. Jadi semua tentang kebaya itu dari eyangku, semua kebaya eyangku aku pakai lagi, bukannya pelit tapi… listnya, brokatnya itu enggak keluar lagi di era sekarang. Modelnya enggak ada lagi, jadi semakin lama kebayanya semakin pengen aku pakainya,” ujarnya.
Lebih dari keindahan desain, Asri percaya bahwa kekuatan utama sebuah kebaya terletak pada cerita yang menyertainya. Setiap kebaya menyimpan kenangan, mulai dari hari pernikahan, acara keluarga, hingga perjalanan hidup para perempuan yang pernah mengenakannya. Karena itulah, ia merasa kebaya layak dijaga dan terus digunakan agar kisah-kisah tersebut tidak hilang ditelan waktu.
“Karena modelnya desainnya sama, ceritanya begitu dekat sama kita, sehingga kita pengen mengulang dan apa namanya menceritakan kembali seperti diceritain tadi. Kalau memang kebaya itu memang asal dari rumah dan kita pakai ya ampun terbayang terbayang dan sampai sekarang masih aku simpan,” ungkapnya.
Meski tidak memiliki anak perempuan, Asri telah memikirkan siapa yang kelak akan menerima koleksi kebaya keluarganya. Ia berharap kebaya-kebaya tersebut tetap dapat hidup dan dikenakan oleh generasi berikutnya melalui para menantunya.
“Aku enggak punya anak perempuan, tapi nanti aku wariskan buat mantu-mantuku,” kata Asri.
Di tengah berkembangnya tren fashion modern, Asri berharap semakin banyak anak muda yang bangga mengenakan kebaya. Menurutnya, anggapan bahwa kebaya adalah pakaian kuno sudah seharusnya ditinggalkan. Justru, kebaya mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya.
“Nah itu yang mungkin bisa disampaikan kepada generasi keren banget pakai kebaya. Kebaya itu bukan kekunoan tapi kekinian,” ungkapnya.












