Pada tahun 2026, PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS) menetapkan target pendapatan sebesar Rp 4,6 triliun serta laba bersih sebesar Rp 150 miliar. Direktur Utama CARS, Benny Redjo Setyono, menyampaikan bahwa perusahaan tetap optimis dengan pertumbuhan penjualan pada tahun ini. Namun, faktor utama yang akan memengaruhi pencapaian kinerja tersebut adalah komposisi penjualan atau product mix.
“Kami memproyeksikan adanya kenaikan sedikit, namun yang lebih penting adalah meningkatnya profitabilitas. Semua tergantung dari product mix-nya. Kami juga bisa bertahan di level tahun lalu karena mix-nya. Oleh karena itu, kami harus memperhatikan kebutuhan pasar,” ujar Benny dalam acara paparan publik yang digelar pada Kamis (25/6/2026).
Untuk mencapai target tersebut, CARS berharap kinerja pada semester I-2026 dapat melampaui pencapaian periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain itu, manajemen perusahaan juga menargetkan kembalinya capaian EBITDA ke tingkat yang pernah diraih pada 2024, yaitu sebesar Rp 413 miliar.
Salah satu keunggulan Grup Nasmoco sebagai dealer Toyota adalah portofolio produk yang lengkap di seluruh segmen kendaraan, mulai dari mesin bakar (internal combustion engine), hybrid hingga mobil listrik (battery electric vehicle). Hal ini memberi daya saing yang kuat bagi CARS dalam menjawab permintaan pasar.
Di samping itu, CARS masih membuka peluang ekspansi jaringan dealer maupun cabang baru jika ada wilayah yang memenuhi kriteria yang ditentukan bersama prinsipal. Toyota sendiri menerapkan pendekatan yang hati-hati dalam ekspansi agar pembukaan dealer baru tetap menguntungkan bagi operator.
“Potensi penambahan dealer atau cabang menjadi fokus kami selama memenuhi kualifikasi persyaratan yang telah ditetapkan. Tentu saja, pengembangan tersebut akan dilakukan di daerah-daerah yang sesuai dengan kriteria pembukaan dealer,” kata Benny.
Untuk mendukung rencana ekspansi bisnis dan pengembangan operasional pada tahun ini, CARS mengalokasikan belanja modal (capital expenditure atau capex) sebesar Rp 112 miliar hingga Rp 120 miliar.
Meski memiliki target pertumbuhan yang ambisius, CARS tetap menghadapi tantangan dari kondisi industri otomotif nasional yang belum sepenuhnya pulih. Wilayah operasional utama perusahaan di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta juga menghadapi tekanan akibat penerapan pajak daerah yang meningkatkan biaya kepemilikan kendaraan, termasuk kenaikan biaya bea balik nama kendaraan bermotor.
Namun, perkembangan kendaraan elektrifikasi justru membuka peluang pertumbuhan baru. Pada kuartal I-2026, pangsa pasar kendaraan listrik di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta telah mencapai sekitar 8%, sementara kendaraan hybrid mencapai 11%. CARS melihat tren ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk menyediakan produk di seluruh segmen kendaraan, termasuk hybrid dan kendaraan listrik murni.
Per kuartal I-2026, volume penjualan mobil CARS turun 19% secara tahunan menjadi sekitar 3.105 unit dari 3.835 unit pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini menyebabkan pendapatan perusahaan turun 21% menjadi Rp 1,1 triliun dari sebelumnya Rp 1,4 triliun.
Namun, berkat berbagai langkah efisiensi internal seperti pengendalian margin laba kotor (gross profit margin), penghematan biaya operasional, serta optimalisasi pengelolaan modal kerja untuk menekan biaya bunga, laba bersih CARS hanya turun terbatas sebesar 4% menjadi Rp 46 miliar dari Rp 48 miliar pada kuartal I-2025.










