Perjanjian Sementara antara Iran dan Oman untuk Mengatur Lalu Lintas di Selat Hormuz
Selat Hormuz, salah satu jalur maritim paling strategis di dunia, kini menjadi fokus perhatian setelah Iran dan Oman dilaporkan hampir mencapai kesepakatan untuk memulihkan lalu lintas komersial. Kesepakatan ini akan mengubah cara kapal-kapal melewati selat yang sempit tersebut, yang sebelumnya diatur oleh Skema Pemisahan Lalu Lintas (TSS).
Rute Baru untuk Kapal Masuk dan Keluar
Menurut laporan yang diterima, kapal-kapal yang masuk ke Teluk Persia akan melalui koridor dekat garis pantai Iran, sementara kapal-kapal yang keluar dari Teluk Persia akan menggunakan rute yang berada di sepanjang perairan teritorial Oman. Berbeda dengan TSS yang membagi lalu lintas menjadi dua jalur terpisah, skema baru ini menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel.
Koridor sementara ini dirancang untuk membuka kembali jalur pelayaran yang telah mengalami gangguan akibat konflik antara AS dan Iran serta aksi saling serang dalam beberapa bulan terakhir. Dengan adanya kesepakatan ini, diharapkan lalu lintas maritim dapat kembali lancar tanpa mengganggu operasi keamanan dan pengawasan.
Biaya Layanan dan Pembagian Pendapatan
Meski kapal-kapal tidak akan dikenakan biaya tol, mereka akan dikenai “biaya layanan” untuk membiayai keamanan maritim, perlindungan lingkungan, dan operasi pemantauan. Pendapatan dari biaya layanan ini akan dibagi rata antara Iran dan Oman. Namun, seorang pejabat AS menyangkal laporan tersebut, menyatakan bahwa koridor sementara yang sedang dibahas tidak memerlukan otorisasi Iran maupun melibatkan pembayaran.
Pengaturan ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Pentagon. Beberapa kritikus berargumen bahwa perjanjian semacam ini bisa dianggap sebagai pengakuan de facto atas otoritas Iran terhadap jalur perairan internasional. Selain itu, ada kekhawatiran tentang ranjau laut yang masih tersisa di beberapa bagian selat, yang mungkin memaksa kapal-kapal komersial untuk mengoordinasikan pergerakan mereka dengan otoritas Iran.
Keamanan dan Pengawasan
Komando Pusat AS (CENTCOM) tetap melakukan pengawasan terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut meskipun menghadapi ancaman serangan rudal Iran. Selain itu, laporan juga menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump menolak dua kali dalam beberapa pekan terakhir untuk memberikan izin serangan militer terhadap target Iran yang telah dipersiapkan oleh Komandan CENTCOM Jenderal Brad Cooper.
Trump lebih memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz secepat mungkin, bahkan jika hal itu berarti menyetujui kesepakatan yang memberikan Iran pengaruh tertentu atas lalu lintas maritim melalui jalur vital tersebut.
Sejarah TSS: Skema Pemisahan Lalu Lintas
Mengutip dari Strauss Center, Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan merupakan satu-satunya jalur maritim dari kawasan teluk yang kaya minyak menuju Samudra Hindia. Selat ini termasuk salah satu titik hambatan minyak terpenting di dunia.
Setiap hari, sekitar 17 juta barel minyak diangkut melalui selat ini, atau setara dengan 20 hingga 30 persen dari total konsumsi dunia. Jalur ekspor minyak lainnya dari wilayah tersebut, seperti jaringan pipa, memiliki kapasitas terbatas. Dengan demikian, sekitar 88 persen dari seluruh minyak yang meninggalkan Teluk Persia melewati Selat Hormuz.
Untuk mengatur pergerakan kapal-kapal besar di perairan yang terbatas tersebut, Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah mengakui Skema Pemisahan Lalu Lintas (TSS). TSS terdiri dari dua jalur pelayaran yang masing-masing memiliki lebar dua mil: satu untuk lalu lintas masuk dan satu untuk lalu lintas keluar. Kedua jalur pelayaran tersebut dipisahkan oleh zona penyangga selebar dua mil.
Iran: Hanya Sedang Bernegosiasi dengan Oman
Mengutip Firstpost, AS mengindikasikan bahwa pembicaraan dengan Iran dapat dilanjutkan. Namun, para pejabat Iran berulang kali membantah bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat sedang berlangsung. Pihak Iran menegaskan bahwa keterlibatan mereka saat ini terbatas pada pembicaraan dengan Oman terkait masa depan navigasi melalui Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Senin (3/8/2026) mengonfirmasi bahwa Iran dan Oman sedang berupaya membangun koridor maritim sementara. “Upaya ini bertujuan untuk menentukan, sesegera mungkin dan melalui konsultasi dengan Oman, rute yang bersifat sementara sehingga keselamatan navigasi melalui Selat Hormuz dapat dipastikan,” kata Baghaei.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengindikasikan negosiasi hampir selesai. Ia mengatakan bahwa pembicaraan dengan Oman sedang dalam proses penyelesaian dan berfokus pada pembentukan rute yang menghormati kedaulatan kedua negara.














Komentar ditutup.