Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengunggah gambar yang dibuat dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) di platform Truth Social. Dalam gambar tersebut, Trump tampak berpakaian seperti Yesus. Unggahan ini dilakukan sekitar 40 menit setelah ia mengunggah cuitan yang menyebut Paus Leo XIV sebagai lemah.
Dalam gambar AI itu, Trump terlihat bermandikan cahaya keemasan saat ia meletakkan tangannya yang bersinar di dahi seorang pria yang sedang tidur. Tampak pula seorang perawat dan seorang perempuan yang sedang berdoa berlutut di sekeliling pasien, sementara seorang pria berseragam kamuflase memperhatikan. Seorang individu keempat, mengenakan seragam hijau, juga berada di samping tempat tidur pasien.
Di latar belakang, terlihat bendera AS yang besar, sepasang elang botak, dan tiga pesawat militer yang terbang di udara. Gambar ini memicu reaksi dari mantan loyalis Trump, Marjorie Taylor Greene, yang mengecam keras unggahan tersebut.
Greene menulis di X bahwa pada Paskah Ortodoks, Presiden Trump menyerang Paus karena Paus dengan tepat menentang perang Trump di Iran. Ia juga mengkritik Trump yang mengunggah foto dirinya seolah-olah dia menggantikan Yesus. Ia menegaskan bahwa hal ini terjadi setelah postingan pekan lalu tentang kecaman jahatnya pada Paskah dan kemudian mengancam akan membunuh seluruh peradaban.
Presiden Konferensi Uskup Katolik AS, Uskup Agung Paul S. Coakley, juga merespons unggahan Trump melalui pernyataan. Ia menyampaikan rasa sedih karena Presiden memilih untuk menulis kata-kata yang meremehkan Bapa Suci. Menurutnya, Paus Leo bukanlah saingannya, dan Paus bukanlah seorang politikus. Ia adalah Wakil Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil dan untuk kepedulian terhadap jiwa-jiwa.
Trump sebelumnya menyebut Paus Leo XIV “lemah” dalam hal kejahatan dan “mengerikan” terkait kebijakan luar negeri. Dalam unggahan panjangnya di Truth Social, Trump mengklaim bahwa kepemimpinan Gereja Katolik telah “menangkap para imam, pendeta, dan semua orang lainnya” di tengah pandemi Covid. Ia menyatakan lebih menyukai saudaranya, Louis, daripada Paus Leo, karena Louis sepenuhnya pendukung MAGA (Make America Great Again). Menurutnya, Louis mengerti, sedangkan Leo tidak.
Trump juga menyatakan bahwa terpilihnya dirinya sebagai Presiden AS berperan dalam pilihan Gereja Katolik terhadap seorang paus pada Mei 2025. Ia menulis bahwa Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, dia adalah kejutan yang mengejutkan. Leo tidak ada dalam daftar calon Paus, dan hanya dimasukkan oleh Gereja karena dia orang Amerika, dan mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk menghadapi Presiden Donald J. Trump. “Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” ujar Trump.
Ia menambahkan bahwa Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti menuruti keinginan kaum Kiri Radikal. “Dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan seorang politisi,” ujarnya.
Pekan lalu, Paus Leo mengatakan bahwa peringatan Trump bahwa seluruh peradaban akan mati pada hari itu, yang merujuk pada Iran, adalah pernyataan yang tidak dapat diterima. Ia juga menyatakan bahwa “khayalan kemahakuasaan” sedang memicu perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Paus Leo menjawab komentar Trump dengan menyatakan bahwa ia akan selalu berbicara untuk mendukung perdamaian. “Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, atau berbicara lantang tentang pesan Injil, yang menurut saya adalah tugas saya di sini, tugas Gereja di sini,” katanya kepada wartawan. “Saya tidak ingin berdebat dengan Trump.”
Ia akan terus bersuara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mendorong dialog dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi permasalahan. Leo juga menyampaikan bahwa sudah terlalu banyak orang yang menderita di dunia saat ini dan terlalu banyak orang tak bersalah yang dibunuh. “Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan mengatakan ada cara yang lebih baik,” ujarnya.







