Menu

Mode Gelap
Jika Anda Kembalikan Troli Tanpa Diminta, Ini 8 Ciri Kepribadian Langka Menurut Psikologi Orang yang Berjalan dengan Tangan di Belakang Punggung: 7 Perilaku yang Mengungkap Psikologi Mereka WhatsApp Plus hadir di iPhone, pin 20 chat dan ubah tema sesuai keinginan Optimasi rantai pasok: Mengapa penting bagi bisnis? Jadwal Pekan 33 BRI Super League: Empat Tim Di Tekanan Harga Emas Antam Naik Rp40.000 Jadi Rp2.859.000 Per Gram, 12 Mei 2026

Ekonomi

Peternak Telur Puyuh Pasuruan Kehilangan Rp16 Juta Per Hari Akibat Pasar MBG Lesu

badge-check


					Peternak Telur Puyuh Pasuruan Kehilangan Rp16 Juta Per Hari Akibat Pasar MBG Lesu Perbesar

Dampak Penurunan Permintaan Telur Puyuh di Pasuruan

Permintaan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurun memberikan dampak serius terhadap peternak telur puyuh di Kabupaten Pasuruan. Setelah Bulan Ramadan berakhir, permintaan telur puyuh turun drastis hingga membuat banyak peternak mengalami kerugian besar setiap harinya.

Kondisi ini dialami oleh Mahrus, seorang peternak telur puyuh asal Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi. Ia menyatakan bahwa hasil produksinya mulai menumpuk dan membusuk karena tidak laku di pasaran. “Biasanya masih ada dapur MBG yang ambil. Sekarang produksi banyak, sampai menumpuk dan rusak tidak ada yang ambil,” ujarnya pada Selasa (12/5/2026) pagi.

Selama Ramadan, telur puyuh digunakan secara luas dalam menu dapur MBG. Namun, setelah Lebaran, permintaan hampir berhenti total sehingga pasar menjadi lesu. Produksi telur puyuh tetap berjalan setiap hari, namun biaya operasional terus meningkat, terutama untuk kebutuhan pakan ternak.

Mahrus saat ini mengelola sekitar 30 ribu ekor burung puyuh di kandangnya. Dari usaha tersebut, produksi telur yang dihasilkan mencapai sekitar dua ton per hari. Untuk memenuhi kebutuhan ternak, sedikitnya satu ton pakan harus disiapkan setiap hari dengan biaya mencapai sekitar Rp 7,25 juta.

Sementara itu, harga jual telur puyuh terus mengalami penurunan. Harga pokok produksi berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram, namun harga jual di pasaran hanya berkisar antara Rp 16 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram. “Kalau dihitung ya pasti rugi. Selisihnya bisa sampai Rp 4 ribu per kilo,” katanya.

Dengan jumlah produksi sekitar dua ton per hari, kerugian yang ditanggung diperkirakan mencapai Rp 16 juta per hari. Nilai tersebut belum termasuk biaya tenaga kerja dan operasional lainnya. Untuk mempertahankan usahanya tetap berjalan, Mahrus mengaku terpaksa menjual aset pribadi untuk membeli pakan ternak. “Kendaraan sudah saya jual. Yang penting ternak tetap hidup dulu,” ucapnya.

Mahrus juga menjelaskan bahwa dirinya tidak hanya mengandalkan produksi kandang pribadi. Selama ini ia turut menampung hasil telur dari peternak kecil di wilayah sekitar yang sebagian modal usahanya berasal dari pinjaman bank. Karena itu, ketika pasar melemah, dampaknya ikut dirasakan peternak lain yang menggantungkan penjualan kepadanya.

Meski berada dalam situasi sulit, Mahrus mengaku tidak ingin memonopoli pasokan telur puyuh untuk program MBG. Ia hanya berharap dapur-dapur MBG kembali menyerap hasil peternak lokal agar roda usaha masyarakat tetap berjalan. “Tidak harus lewat saya. Yang penting peternak lokal tetap bisa hidup,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah maupun pengelola program MBG dapat kembali memasukkan telur puyuh dalam menu makanan setidaknya satu atau dua kali dalam sepekan agar hasil produksi peternak tetap terserap pasar.

Tantangan Peternak Telur Puyuh

  • Penurunan Permintaan: Setelah Ramadan, permintaan dari dapur MBG menurun drastis.
  • Menumpuk dan Busuk: Banyak hasil produksi telur puyuh yang tidak laku dan mulai membusuk.
  • Biaya Operasional Tinggi: Biaya pakan ternak mencapai sekitar Rp 7,25 juta per hari.
  • Harga Jual Rendah: Harga jual di pasaran lebih rendah daripada harga pokok produksi.
  • Kerugian Besar: Kerugian diperkirakan mencapai Rp 16 juta per hari.
  • Pembiayaan Sendiri: Peternak terpaksa menjual aset pribadi untuk membiayai operasional.
  • Dampak pada Peternak Lain: Peternak kecil yang bergantung pada Mahrus juga terkena dampak negatif.


Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Optimasi rantai pasok: Mengapa penting bagi bisnis?

12 Mei 2026 - 10:57 WIB

Harga Emas Antam Naik Rp40.000 Jadi Rp2.859.000 Per Gram, 12 Mei 2026

12 Mei 2026 - 10:50 WIB

Kembangkan Pertambangan Bersih, Indonesia Kuatkan Kemitraan Batu Bara dengan Tiongkok

12 Mei 2026 - 10:46 WIB

7 cara diskusi memulai bisnis sampingan bersama pasangan

12 Mei 2026 - 03:08 WIB

Harga Emas Antam Melonjak! Ini Daftar Stok yang Tersedia

12 Mei 2026 - 02:19 WIB

Trending di Ekonomi