Ringkasan Berita:
- Operasi penyergapan aparat gabungan di Kali Biru, Dekai, Yahukimo, Selasa (1/9/2026), memicu ketegangan.
- Insiden yang diwarnai penembakan seorang pemuda dan penangkapan enam warga sipil tanpa surat perintah ini memancing protes warga, yang dibalas rentetan tembakan.
- Kota Dekai dikabarkan mencekam, RSUD Dekai siaga satu untuk evakuasi korban, sementara otoritas keamanan belum memberikan keterangan resmi.
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, JAYAPURA – Aksi dugaan penembakan terhadap seorang pemuda dan penangkapan enam warga sipil oleh aparat gabungan di Kali Biru, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Selasa (1/9/2026) sore, memicu ketegangan hebat hingga membuat pusat kota mencekam.
Berdasarkan informasi yang diterima Tribun-PapuaTengah.com. operasi penyergapan yang melibatkan sedikitnya lima unit kendaraan militer itu mendatangi pemukiman warga secara mendadak pada pukul 17.00 WIT.
Situasi memanas ketika letusan senjata api melukai lengan kiri seorang pemuda di lokasi kejadian.
Warga yang menyaksikan insiden tersebut langsung melayangkan aksi protes keras secara terbuka di lokasi penyergapan.
Aksi unjuk rasa warga justru dibalas dengan rentetan tembakan beruntun ke berbagai arah hingga membubarkan massa.
Sementara itu, laporan Human Rights Defender mencatat tindakan represif tersebut dilakukan tanpa prosedur hukum serta tanpa disertai surat perintah resmi dari kepolisian.
Lembaga pembela hak asasi manusia ini terus mengumpulkan identitas rinci para korban melalui jaringan relawan di lapangan.
Eskalasi keamanan pasca-kejadian menyebabkan RSUD Dekai memberlakukan status siaga satu di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.
Sejumlah korban luka-luka langsung dievakuasi ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan medis intensif, sementara pendataan terhadap kemungkinan adanya korban jiwa masih berlangsung.
Rasa takut dan trauma mendalam kini membayangi warga sipil di kawasan pemukiman Jalan KPU Lama dan sekitarnya.
Suasana mencekam masih menyelimuti pusat Kota Dekai hingga Selasa malam karena minimnya akses informasi resmi dari pihak keamanan setempat.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak kepolisian maupun TNI wilayah setempat belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pengerahan pasukan, legalitas penangkapan, maupun insiden penembakan tersebut. (*)











