Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Nasional

Dewan Pers dan Konstituen Sepakati RUU Hak Cipta, Tingkatkan Kekuatan Industri Pers

badge-check

Dewan Pers dan Konstituen Sepakati RUU Hak Cipta, Tingkatkan Kekuatan Industri Pers Perbesar

Dewan Pers dan Konstituen Sepakati RUU Hak Cipta, Tingkatkan Kekuatan Industri Pers

Forum Dengar Pendapat Dewan Pers untuk Perlindungan Karya Jurnalistik

Pada hari Kamis (11/6/2026), Dewan Pers menggelar forum dengar pendapat yang dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk konstituen, asosiasi perusahaan media, dan profesi jurnalis. Tujuan dari forum ini adalah untuk mengumpulkan masukan terkait usulan pengaturan karya jurnalistik dalam Rancangan Undang-Undang Hak Cipta (RUU Hak Cipta). Forum ini menjadi bagian dari upaya Dewan Pers untuk memastikan bahwa perubahan regulasi hak cipta mampu menjawab tantangan baru yang dihadapi industri pers di era digital dan kecerdasan buatan (AI).

Dewan Pers menekankan bahwa karya jurnalistik merupakan hasil kerja intelektual yang lahir melalui proses jurnalistik yang profesional, mulai dari peliputan, verifikasi, pengolahan informasi, hingga publikasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, produk jurnalistik memiliki nilai ekonomi yang layak mendapatkan perlindungan hukum sebagaimana karya intelektual lainnya.

Ketua Dewan Pers, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, menyampaikan bahwa anggota Dewan Pers sedang serius mengupayakan inovasi dan solusi untuk kesulitan yang tengah dihadapi insan pers. Ia mengapresiasi resiliensi teman-teman di industri pers dan berharap perlindungan karya jurnalistik dalam RUU Hak Cipta bisa menjadi salah satu solusi.

Peserta Forum dan Perhatian Utama

Forum dengar pendapat ini dihadiri oleh berbagai organisasi dan lembaga seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Serikat Perusahaan Pers (SPS), Pewarta Foto Indonesia (PFI), serta organisasi media lainnya. Selain itu, hadir pula lembaga bantuan hukum seperti LBH Pers dan komite tanggung jawab perusahaan platform digital.

Beberapa pokok pikiran penting muncul selama diskusi. Pertama, perlunya pengakuan eksplisit terhadap karya jurnalistik sebagai objek yang dilindungi dalam UU Hak Cipta. Kedua, perlunya pengakuan hak ekonomi perusahaan pers atas karya jurnalistik yang diproduksi dan diterbitkannya. Ketiga, perlunya pengaturan yang lebih jelas mengenai penggunaan karya jurnalistik oleh platform digital, agregator berita, mesin pencari, dan sistem AI.

Peserta forum juga menyoroti semakin luasnya penggunaan karya jurnalistik sebagai bahan pengindeksan, agregasi informasi, penayangan cuplikan berita, hingga pelatihan model kecerdasan buatan. Meskipun praktik tersebut menciptakan manfaat ekonomi bagi berbagai pihak, belum ada mekanisme kompensasi yang proporsional kepada perusahaan pers dan para pencipta karya jurnalistik.

Selain itu, forum membahas kemungkinan pembentukan mekanisme kolektif, Lembaga Manajemen Kolektif (LMK), untuk mengelola lisensi dan distribusi nilai ekonomi dari penggunaan karya jurnalistik. Sejumlah peserta menilai mekanisme ini dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat posisi tawar industri pers nasional dalam berinteraksi dengan platform digital global dan perusahaan pengembang AI.

Kejelasan Regulasi dan Tujuan Ekosistem Informasi yang Sehat

Dewan Pers menegaskan bahwa usulan perlindungan karya jurnalistik dalam RUU Hak Cipta tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berekspresi, akses informasi publik, maupun perkembangan teknologi. Sebaliknya, pengaturan tersebut diarahkan untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi seluruh pelaku.

Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menegaskan bahwa perlindungan terhadap karya jurnalistik pada akhirnya bukan hanya melindungi perusahaan pers dan jurnalis, tetapi juga menjaga hak publik untuk memperoleh informasi yang berkualitas dan dapat dipercaya.

Menurut Dahlan Dahi, anggota yang juga Ketua Komisi Digital & Sustainability Dewan Pers, perlindungan karya jurnalistik hanya berlaku bagi penggunaan komersil. Penggunaan non-komersil, seperti untuk pendidikan, penelitian, atau kajian akademik, tetap diperbolehkan.

Langkah Berikutnya

Seluruh masukan yang berkembang dalam forum dengar pendapat ini akan menjadi bahan penyempurnaan usulan Dewan Pers kepada pemerintah dan DPR dalam proses pembahasan RUU Hak Cipta.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Read More

Tuan Rumah Mayor’s Talk APEKSI 2026, Wali Kota Bogor Dedie Rachim Dorong Inovasi Sampah dan Penguatan PSEL

29 Sep 2026 - 04:57 WIB

Tuan Rumah Mayor’s Talk APEKSI 2026, Wali Kota Bogor Dedie Rachim Dorong Inovasi Sampah dan Penguatan PSEL

Lampu Merah Ciawi Kerap Diterobos, Polsek Ciawi Siagakan Personel untuk Atur Lalu Lintas

29 Sep 2026 - 04:54 WIB

Lampu Merah Ciawi Kerap Diterobos, Polsek Ciawi Siagakan Personel untuk Atur Lalu Lintas

LBH BOGOR GUGAT BANK BCA KE PENGADILAN NEGERI CIBINONG

21 Sep 2026 - 09:14 WIB

LBH BOGOR GUGAT BANK BCA KE PENGADILAN NEGERI CIBINONG

KPK duga Vinna Ledy terima aset dan uang proyek PUPR Kota Bengkulu

2 Sep 2026 - 11:24 WIB

KPK duga Vinna Ledy terima aset dan uang proyek PUPR Kota Bengkulu

Pengamat Harap Pengurus PBNU Baru Bukan dari Kalangan Partai and Pejabat Publik,Agar Fokus Organisasi

2 Sep 2026 - 02:46 WIB

Pengamat Harap Pengurus PBNU Baru Bukan dari Kalangan Partai and Pejabat Publik,Agar Fokus Organisasi
Trending on Nasional