Menu

Mode Gelap
LAK DKI JAKARTA BUKA POSKO PENGADUAN KONSUMEN APARTEMEN LRT CITY Eks Wakapolri Merasa Dikriminalisasi, Kortas Tipidkor Polri Angkat Bicara Rambut Rontok? Ini 6 Vitamin untuk Akar Lebih Kuat dan Sehat Keluarga kaget tahu Miskah Shafa hamil anak kedua Mengapa Suzuki Thunder Dilarang Isi Pertalite, Tapi Kawasaki, Honda, dan Yamaha Scorpio Boleh? Jokowi bertemu teman kuliah UGM sebelum persidangan kasus ijazah palsu

Ekonomi

Harga saham BBCA melonjak 19% dalam tiga hari, diserbu investor asing?

badge-check

Harga saham BBCA melonjak 19% dalam tiga hari, diserbu investor asing? Perbesar

Kenaikan Harga Saham BCA dan Strategi Perusahaan



Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami kenaikan signifikan dalam tiga hari terakhir, mencapai level Rp 5.825 pada perdagangan saham Kamis (11/6). Selama seminggu terakhir, saham BBCA kembali menguat sebesar 7,37% dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 718,08 triliun. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy senilai Rp 387,96 miliar untuk saham BBCA. Hal ini menjadikan BBCA sebagai saham dengan net buy terbesar pada perdagangan kemarin.

Selain itu, BBCA juga menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar di pasar modal, mencapai Rp 3,12 triliun. Saham bank swasta terbesar di Indonesia ini berkontribusi hingga 14,25% terhadap nilai transaksi keseluruhan pada perdagangan Kamis. Meskipun harga sahamnya telah melonjak, analis menilai bahwa ruang kenaikan BBCA masih terbuka lebar.

Rekomendasi Analis dan Potensi Kenaikan

Dalam riset terbarunya, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900 per saham. Dengan harga Rp 5.650 pada perdagangan sebelumnya, target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 92,92%. Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menyebut BBCA tetap menjadi pilihan utama di sektor perbankan.

Menurutnya, valuasi saham BBCA saat ini masih berada pada level yang menarik dibandingkan rata-rata historisnya. Saat ini, valuasi BBCA berada di kisaran mendekati minus dua standar deviasi (-2SD), dibandingkan rata-rata price to book value (P/BV) selama 10 tahun terakhir yang berada di level 2,1 kali. “Selain itu, posisi BBCA sebagai bank dengan franchise yang kuat dan neraca keuangan yang dominan dinilai mampu memberikan bantalan terhadap pandangan pertumbuhan yang lebih moderat,” tulis Erindra dalam risetnya.

Komitmen Pembagian Dividen

BBCA kini juga berkomitmen untuk membagikan dividen sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Sebelumnya, BBCA telah menetapkan pembagian dividen interim termin pertama pada kuartal kedua tahun buku 2026. Pembagian dividen ini mempertimbangkan soliditas kinerja perusahaan periode 1 Januari 2026 sampai dengan 31 Maret 2026 dan komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada jajaran pemegang saham.

Pembagian dividen interim tersebut telah disetujui dewan komisaris BBCA, yaitu perseroan akan membagikan dividen interim termin pertama sebesar Rp 20 per saham yang akan ditebar pada 26 Juni 2026 mendatang. Adapun cum dividen BBCA di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 15 Juni 2026. Pembagian dividen ini didasarkan raihan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 14,68 triliun, saldo laba ditahan Rp 239,07 triliun dan total ekuitas mencapai Rp 259,35 triliun hingga Maret 2026.

Program Buyback Saham

Perusahaan juga memiliki rencana untuk merealisasikan program pembelian kembali atau buyback saham. Program ini telah diputusan sesuai persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan (RUPST) Tahun Buku 2025. Hendra Lembong, salah satu pejabat BBCA, menyatakan bahwa aksi korporasi ini merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April 2026 lalu.

Hendra menegaskan bahwa aksi korporasi ini bagian dari kepercayaan BCA terhadap kondisi pasar modal Indonesia. “Pelaksanaan Buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini juga sudah mempertimbangkan kondisi fundamental Perseroan,” ujar Hendra dalam keterangannya.

Dana yang disiapkan untuk pelaksanaan buyback mencapai maksimal Rp 5 triliun, termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya transaksi lainnya. Manajemen menilai aksi korporasi tersebut tidak akan memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan operasional BBCA. Pelaksanaan buyback akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan dan kondisi pasar.

Respons terhadap Kenaikan Suku Bunga BI

Seiring dengan itu, BCA juga merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang secara mendadak menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% pada Selasa (9/6). Manajemen BBCA terus mencermati perkembangan suku bunga acuan, indikator makroekonomi, potensi risiko, serta kondisi likuiditas perbankan dan pasar yang dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran.

Perusahaan mengatakan berbagai faktor tersebut menjadi pertimbangan dalam menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan pertumbuhan kredit yang sehat. Di saat yang sama, perseroan juga secara berkala meninjau tingkat suku bunga kredit agar tetap berada pada level yang dapat diterima pasar serta sejalan dengan daya beli masyarakat.

“Ke depan, kami akan terus mendorong penyaluran kredit yang berkualitas dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin,” ungkap manajemen BCA dalam keterangannya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Aturan Baru MSCI untuk Saham Melonjak Ekstrem

20 Juli 2026 - 07:39 WIB

Siap-siap, Ditjen Pajak Bisa Akses Data Keuangan Orang Kaya dan Tokoh Publik

20 Juli 2026 - 02:35 WIB

Resmi! MSCI Longgarkan Aturan, Peluang Saham RI Masuk Indeks Global Makin Besar

20 Juli 2026 - 02:04 WIB

13 Jurusan Kuliah Minyak Bumi Gaji Tinggi dan Prospek Luar Negeri

14 Juli 2026 - 05:05 WIB

Cek Rekening! Dividen Tunai 9 Saham Rp Triliunan Cair Hari Ini

9 Juli 2026 - 00:04 WIB

Trending di Ekonomi