Menu

Mode Gelap
LAK DKI JAKARTA BUKA POSKO PENGADUAN KONSUMEN APARTEMEN LRT CITY Eks Wakapolri Merasa Dikriminalisasi, Kortas Tipidkor Polri Angkat Bicara Rambut Rontok? Ini 6 Vitamin untuk Akar Lebih Kuat dan Sehat Keluarga kaget tahu Miskah Shafa hamil anak kedua Mengapa Suzuki Thunder Dilarang Isi Pertalite, Tapi Kawasaki, Honda, dan Yamaha Scorpio Boleh? Jokowi bertemu teman kuliah UGM sebelum persidangan kasus ijazah palsu

Lifestyle

Trigliserida Tinggi, Kolesterol Normal: Bahaya Tersembunyi?

badge-check

Trigliserida Tinggi, Kolesterol Normal: Bahaya Tersembunyi? Perbesar

Apa yang Perlu Diketahui tentang Trigliserida Tinggi?

Hasil cek darah menunjukkan bahwa kolesterol total Anda normal dan LDL tidak terlalu tinggi, tetapi trigliserida tinggi. Hal ini bisa membuat Anda bingung, apakah kondisi ini berisiko bagi kesehatan? Trigliserida adalah jenis lemak dalam darah yang berfungsi menyimpan energi dari makanan. Setelah makan, tubuh mengubah kelebihan kalori, terutama dari gula dan karbohidrat olahan, menjadi trigliserida, lalu menyimpannya di sel lemak.

Trigliserida adalah bagian dari panel lipid, dan jika angkanya tinggi, itu tetap perlu ditindaklanjuti. Kadar trigliserida di bawah 150 mg/dL biasanya dianggap normal, sementara angka yang lebih tinggi perlu dibaca bersama faktor risiko lain.

Trigliserida Tinggi Bisa Meningkatkan Risiko Jantung

Meski low-density lipoprotein (LDL atau kolesterol jahat) lebih dikenal, trigliserida tinggi juga tidak bisa diabaikan. Trigliserida tinggi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena terkait dengan partikel sisa yang kaya kolesterol yang bersifat aterogenik (menyebabkan pembentukan plak di dinding arteri).

Saat trigliserida tinggi, darah bisa membawa lebih banyak partikel sisa metabolisme lemak yang ikut berkontribusi pada pembentukan plak di pembuluh darah. Inilah alasan Anda bisa tetap punya risiko jantung meski kolesterol total terlihat normal.

Trigliserida Tinggi Bisa Menjadi Tanda Masalah Metabolik

Trigliserida tinggi sering kali bukan masalah yang berdiri sendiri. Ini dapat menjadi tanda kondisi lain yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, seperti obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2 atau pradiabetes, hipotiroidisme, dan beberapa kondisi genetik.

Beberapa penyebab sekunder trigliserida tinggi antara lain:
* Diabetes.
* Penyakit ginjal kronis.
* Obesitas.
* Kehamilan.
* Penyakit inflamasi kronis.
* Konsumsi alkohol.
* Pola makan tinggi lemak jenuh.
* Makanan tinggi indeks glikemik seperti karbohidrat olahan dan gula.
* Beberapa obat juga dapat menaikkan trigliserida, misalnya steroid, estrogen, beta-blocker, diuretik, dan obat imunosupresan tertentu.

Risiko Kesehatan Kadar Trigliserida yang Sangat Tinggi



Pada kadar ringan sampai sedang, kekhawatiran utama trigliserida tinggi adalah risiko penyakit jantung dan stroke dalam jangka panjang. Angka trigliserida ringan sampai sedang adalah ≥150 mg/dL saat puasa atau ≥175 mg/dL saat tidak puasa hingga di bawah 500 mg/dL.

Kadar ≥500 mg/dL masuk kategori berat, dan risiko pankreatitis perlu diperhatikan, terutama jika angkanya mencapai ≥1.000 mg/dL. Pankreatitis adalah peradangan pankreas yang bisa menyebabkan nyeri perut hebat dan butuh penanganan medis.

Hasil Trigliserida Tinggi? Ini yang Perlu Dilakukan

Langkah pertama adalah memastikan hasilnya benar. Trigliserida mudah dipengaruhi makanan terakhir, alkohol, dan kondisi tubuh saat pemeriksaan. Jika hasilnya tinggi, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan ulang, sering kali dalam kondisi puasa, terutama jika angkanya tinggi atau akan dipakai untuk menentukan pengobatan.

Pemeriksaan trigliserida biasanya menjadi bagian dari panel lipid, dan puasa diperlukan untuk pengukuran trigliserida yang akurat. Setelah itu, cek faktor yang sering menyertai seperti gula darah puasa atau HbA1c, tekanan darah, lingkar pinggang, fungsi hati, fungsi ginjal, TSH jika dicurigai gangguan tiroid, serta obat atau suplemen yang sedang digunakan.

Dari sisi gaya hidup, fokus terbesar biasanya bukan sekadar mengurangi makanan berlemak, melainkan mengurangi gula dan karbohidrat olahan. Saran umumnya adalah membatasi gula dan karbohidrat rafinasi, menurunkan berat badan jika diperlukan, rutin olahraga, memilih lemak yang lebih sehat, serta membatasi alkohol.

Intervensi gaya hidup dan kontrol penyebab sekunder adalah kunci penanganan hipertrigliseridemia.

Kapan Perlu Lebih Waspada?

Jangan menunggu muncul gejala, karena trigliserida tinggi biasanya tidak terasa. Segera konsultasi jika trigliserida ≥500 mg/dL, ada riwayat pankreatitis, diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, perlemakan hati, riwayat keluarga penyakit jantung dini, atau kadar trigliserida tetap tinggi meski pola makan sudah diperbaiki.

Kesimpulannya, trigliserida tinggi walaupun kolesterol normal tidak boleh diabaikan, karena ini memberi petunjuk bahwa metabolisme lemak dan energi sedang tidak ideal. Kabar baiknya, trigliserida bisa diperbaiki lewat perubahan gaya hidup seperti mengurangi gula, membatasi alkohol, bergerak rutin, menurunkan berat badan jika perlu, dan mengelola gula darah.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rambut Rontok? Ini 6 Vitamin untuk Akar Lebih Kuat dan Sehat

20 Juli 2026 - 08:54 WIB

Perbedaan Agama Tak Jadi Hambatan, Mama Rieta dan Desiree Tarigan Tunjukkan Persahabatan yang Kuat

19 Juli 2026 - 12:29 WIB

Jika Remaja Tidak Mendengarkan, Lakukan 7 Kebiasaan Ini Berdasarkan Psikologi

17 Juli 2026 - 20:13 WIB

5 Perbedaan Sepatu Onitsuka Tiger Asli dan KW, Jangan Tertipu!

16 Juli 2026 - 12:10 WIB

4 Jenis Minuman yang Harus Dihindari Penderita Diabetes

14 Juli 2026 - 23:29 WIB

Trending di Lifestyle