JAKARTA – Seorang pengusaha, Insanul Fahmi, memberikan respons terkait busana yang sempat dikenakan oleh istrinya, Wardatina Mawa, saat sidang perceraian.
Wardatina Mawa menyatakan bahwa gaun putih yang ia kenakan pada hari persidangan merupakan pakaian yang digunakan saat akad nikah dengan Insanul Fahmi. Namun, pihak Insanul Fahmi membantah pernyataan tersebut. Menurutnya, baju putih yang dikenakan Mawa bukanlah busana yang dipakai saat akad nikah.
“Enggak sih, kayaknya. Kayaknya bukan baju akad sih,” ujar Insanul Fahmi di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (10/4).
Menurut pengusaha tersebut, pakaian yang dikenakan oleh istrinya hanya baju putih biasa, bukan busana khusus untuk acara akad. “Baju putih saja sih. Kalau menurut aku itu cuma sekedar baju putih,” kata Insanul Fahmi.
Ia merasa bahwa baju yang dikenakan Mawa saat sidang berbeda dari busana akad nikah mereka. “Kayaknya baju akad enggak begitu soalnya, jadi enggak tahu ya,” tambahnya.
Sebelumnya, Wardatina Mawa pernah mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial tentang pakaian yang ia kenakan saat sidang perceraian. Ia datang ke persidangan menggunakan baju muslim berwarna putih, yang ternyata adalah busana akad nikah bersama Insanul Fahmi.
Mawa, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa baju putih yang ia gunakan masih menyimpan kenangan akan pernikahannya. “Baju warna putih ini masih menyimpan gema akad itu, setiap detiknya seperti mengulang kata ‘selamanya’ yang pernah kita yakini,” tulisnya dalam unggahan Instagram beberapa waktu lalu.
Namun, ia juga menyadari bahwa janji suci bisa berubah seiring waktu dan realitas yang tak bisa dihindari. “Namun hari ini aku belajar, bahwa bahkan janji yang paling suci pun bisa luruh oleh waktu dan kenyataan yang tak bisa kita lawan,” lanjutnya.
Pemakaian baju akad nikah dalam sidang perceraian memiliki makna tersendiri bagi Mawa. Baginya, ini menjadi cara untuk berdamai dengan masa lalu dan melepaskan harapan terhadap sang suami.
“Putih ini tak lagi tentang bahagia yang kita punya, tapi tentang keberanian untuk menerima bahwa tak semua yang dimulai bersama ditakdirkan untuk selamanya,” ujarnya.











