Harga Minyak Dunia Mengalami Penurunan
Harga minyak dunia terus mengalami penurunan setelah kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berlaku. Saat ini, pelaku pasar sedang memantau pemulihan aktivitas di Selat Hormuz agar pasokan minyak dari Teluk Persia dapat kembali dijual ke pasar global.
Harga minyak Brent turun sebesar 1,2% menjadi US$ 78,61 per barel pada pukul 08.50 pagi di Singapura. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate melemah sebesar 1,3% menjadi US$ 75,78 per barel. Kesepakatan damai yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran penting.
Di sisi lain, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan bahwa sanksi AS terhadap Iran harus segera dicabut. “Iran harus bisa menjual minyaknya, pengiriman dan asuransi tidak boleh menghadapi hambatan apa pun. Selain itu pendapatan dari penjualan minyak juga harus dapat diterima,” ujarnya dalam pernyataannya.
Sebelumnya, harga minyak dunia melonjak setelah terjadi penyerangan AS dan Israel kepada Iran pada akhir Februari 2026. Gejolak di Timur Tengah yang semakin memanas sempat membuat harga minyak menyentuh di atas US$ 120 per barel.
Proyeksi Normalisasi Ekspor Minyak
Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, mengatakan: “Bagian yang mudah adalah mencapai kesepakatan, bagian yang lebih sulit adalah menentukan seberapa besar gangguan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir akan menjadi permanen.”
Goldman Sachs Group Inc. dalam laporan terbarunya menyatakan bahwa mereka kini memperkirakan ekspor dari Teluk Persia akan kembali normal ke tingkat sebelum perang pada akhir bulan depan. Proyeksi ini lebih cepat dibandingkan prediksi sebelumnya yang memperkirakan normalisasi baru terjadi pada akhir Agustus.
Khurshid menambahkan: “Pelaku pasar cenderung menganggap pembukaan kembali berarti kondisi kembali seperti semula. Padahal, beberapa perubahan yang terjadi selama masa gangguan mungkin akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan banyak orang.”
Sikap Industri Minyak dan Pelayaran
Meski kesepakatan damai sudah di depan mata, sebagian besar industri minyak dan pelayaran masih mengambil sikap menunggu dan melihat. Kendati demikian, sejumlah kapal mulai mengubah rute menuju Timur Tengah, sementara kapal tanker Iran yang mengangkut minyak mulai bergerak keluar.
Para pemilik kapal melaporkan adanya sejumlah permintaan awal untuk menyewa kapal guna mengangkut minyak dari pelabuhan-pelabuhan di kawasan Timur Tengah, meskipun belum jelas apakah sudah ada kontrak baru yang disepakati. Produsen terbesar kedua di kawasan itu sebelum perang, Irak, mengatakan bahwa mereka sedang mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan ekspor.
Tekanan Terhadap Persediaan Masih Tinggi
Meskipun harga minyak telah mereda, tekanan terhadap persediaan masih sangat tinggi. Stok minyak di Cushing, pusat penyimpanan komersial terbesar di AS, telah turun hingga sekitar 20 juta barel. Level tersebut dianggap para pelaku pasar sebagai batas minimum operasional.










