Masalah kesehatan yang terus-menerus mengganggu membuat dua pihak harus berpisah secara damai. Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa cedera punggung yang tidak kunjung sembuh menjadi alasan utama bagi kedua belah pihak untuk sepakat berpisah tanpa adanya kompensasi. Kesempatan Cavani untuk tampil di lapangan sangat terbatas dalam beberapa bulan terakhir, sehingga kontribusinya sebagai penyerang veteran juga terbatas saat mengenakan seragam biru-emas.
Cavani hanya bisa tampil dalam dua pertandingan sepanjang musim ini, dan gagal mencetak gol karena masalah punggung yang parah serta hernia diskus. Di awal musim, pemain berusia 39 tahun tersebut bahkan menjalani operasi mikro di punggungnya dalam upaya mengatasi kondisi tersebut, namun tuntutan fisik sepak bola Argentina akhirnya terlalu berat baginya.
Masa Depan yang Tidak Berhenti
Meskipun kontraknya diputus lebih awal, Cavani sama sekali tidak berniat untuk gantung sepatu. Pihak-pihak yang dekat dengan sang pemain telah menegaskan bahwa keputusan ini bertujuan untuk mencari lingkungan yang lebih sesuai dengan kondisi fisiknya saat ini, bukan sebagai tanda berakhirnya karier sepak bolanya.
"Dia merasa baik-baik saja dan sangat menantikannya. Pembatalan ini bukan berarti dia akan pensiun," ujar seorang perwakilan. Sementara Cavani merencanakan langkah selanjutnya di lapangan, ia juga akan menyeimbangkan sisa kariernya dengan mengawasi merek anggur premium miliknya, Cavani Wines, yang telah diluncurkan dengan sukses pada tahun 2024
Trofi yang Belum Tercapai
Cavani akan meninggalkan klub legendaris di Amerika Selatan tanpa menambah satu pun trofi ke dalam lemari trofinya yang sudah penuh. Ini menjadi pengalaman kedua dalam kariernya di mana ia mengambil inisiatif sendiri terkait kontraknya, setelah sebelumnya membayar £1,3 juta untuk mengakhiri kontraknya dengan klub Spanyol, Valencia.
Sebelum berkarier di Argentina, Cavani menikmati kariernya yang gemilang di berbagai liga top Eropa. Ia memulai kariernya di Palermo pada 2007 sebelum mencetak banyak gol untuk Napoli dan Paris Saint-Germain. Ia meraih enam gelar Ligue 1 di Prancis sebelum pindah ke Old Trafford pada 2020, di mana ia mencetak 19 gol dalam 59 penampilan untuk Man Utd.
Warisan yang Tak Terlupakan
Di kancah internasional, warisan Cavani tetap kokoh sebagai salah satu pencetak gol paling tajam dalam sejarah sepak bola Amerika Selatan. Dijuluki "El Matador", ia mencetak 58 gol yang mengesankan dalam 136 penampilan untuk Uruguay, sehingga dengan nyaman menempati posisi pencetak gol terbanyak kedua sepanjang masa bagi negaranya.
Prestasi internasionalnya meliputi pengangkatan trofi Copa América 2011 bersama generasi emas pemain berbakat, serta perjalanan yang tak terlupakan hingga semifinal Piala Dunia 2010. Meskipun secara resmi pensiun dari tim nasional pada 2022, naluri predator Cavani di dalam kotak penalti memastikan bahwa beberapa klub akan tetap waspada saat ia berstatus sebagai pemain bebas transfer.











