Indikasi Keretakan Hubungan Politik Jokowi dan Prabowo
Pengamat politik Ray Rangkuti menilai ada sejumlah indikasi yang menunjukkan bahwa hubungan politik antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden ke-8, Prabowo Subianto, mulai merenggang. Meskipun belum terbelah sepenuhnya, beberapa tanda-tanda keterlibatan mereka dalam koalisi politik semakin jelas terlihat.
Posisi Duduk Wapres Gibran
Salah satu indikasi yang paling mencolok adalah perubahan posisi duduk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada 20 Juli 2026. Sebelumnya, Gibran duduk berdampingan dengan Presiden, tetapi kali ini ia berada di jajaran depan para menteri koordinator, tidak lagi bersejajar dengan Prabowo. Hal ini menunjukkan adanya distorsi dalam hubungan antara Jokowi dan Prabowo, mengingat Gibran adalah putra bungsu Jokowi.
Tokoh Kritikus Jokowi Masuk Kabinet Prabowo
Ray juga menyoroti masuknya sejumlah tokoh yang dulu sering mengkritik Jokowi dalam pemerintahan Prabowo. Contohnya adalah Mohammad Jumhur Hidayat, yang diangkat sebagai Menteri Lingkungan Hidup oleh Prabowo. Selain itu, Said Iqbal, tokoh buruh yang dulu sering mengkritik Jokowi, kini diangkat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh. Ini menunjukkan bahwa Prabowo mulai membangun kabinet yang lebih independen dari lingkaran Jokowi.
Minimnya Pertemuan Kedua Tokoh
Indikasi lainnya adalah minimnya pertemuan antara Jokowi dan Prabowo. Dalam beberapa acara kenegaraan, seperti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026, Jokowi tidak hadir meskipun acara tersebut digelar di Jakarta. Ketidakhadirannya disebut karena tidak menerima undangan. Selain itu, Jokowi dikabarkan menolak jabatan Wantimpres yang ditawarkan oleh Prabowo, memilih untuk tetap tinggal di Solo.
Sikap Prabowo Terhadap Kasus Ijazah Jokowi
Ray juga menyebut bahwa Prabowo tampak tidak peduli terhadap kasus ijazah palsu yang dialami Jokowi. Menurut Ray, hal ini karena Prabowo menganggap isu tersebut tidak memberikan keuntungan baginya. Oleh karena itu, Prabowo bisa melangkah tanpa menghadapi kritik kuat dari publik.
Tanda-Tanda Keretakan yang Meningkat
Ray menduga keretakan ini akan semakin parah jika Prabowo mengganti Kapolri tahun ini atau sebelum 2027. Saat ini, Kapolri masih dijabat oleh Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang dilantik oleh Jokowi saat masih menjabat presiden. Meski demikian, Ray menilai hubungan antara Jokowi dan Prabowo belum benar-benar terbelah, hanya terjadi retakan yang saling tarik ukur.
Safari Politik Jokowi di NTT
Presiden Jokowi terus melakukan safari politik untuk memperkenalkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Setelah bulan lalu berkunjung ke Provinsi Lampung, kali ini Jokowi melakukan safari politik di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan, pada 1 Agustus 2026, Jokowi menerima gelar kehormatan Sesepuh Raja-Raja Timor dalam sebuah karnaval budaya di Kota Kupang, NTT, yang dihadiri ribuan orang.

Safari politik ini menjadi salah satu cara Jokowi untuk memperkuat dukungan politiknya. Namun, apakah agenda ini membenarkan dugaan publik tentang retaknya hubungan politik antara Jokowi dan Prabowo? Hingga saat ini, jawaban atas pertanyaan ini masih menjadi teka-teki yang belum sepenuhnya terpecahkan.











